Menjadi Terkenal (Part 1)
Ilustrasi terkenal (Foto: Pexels/Dahlia-Dalprat)
Beberapa hari lalu saya tidak sengaja menonton konten milik YouTuber Felicia Putri Tjiasaka. Dia adalah kreator konten yang kerap membahas soal finansial.
Dalam video short yang lewat di YouTube saya, FPT menanyai sejumlah remaja belasan tahun yang ia temui di Citayam. Ia bertanya dari mana asal mereka, apa yang dilakukannya di sana, dan apa cita-cita mereka.
Salah satu dari mereka mengatakan bahwa dia tidak bersekolah (video itu diambil siang hari masih jam sekolah) karena malas dan sengaja ke sana demi mengikuti tren dan berharap ketenaran bisa mampir pada nasibnya. Seperti cita-citanya, menjadi terkenal.
Saya kemudian berpikir, ternyata memang banyak sekali orang yang ingin dirinya terkenal. Dan saya lihat sekarang di antara orang-orang yang terkenal itu, banyak yang terkenal bukan karena karyanya, melainkan sensasi yang dibuatnya. Ada pula dari mereka yang mengalami ketenaran sesaat karena 'hanya' modal videonya viral.
Mungkin memang sebagian orang berpikir "yang penting dikenal dulu berkarya belakangan" dari pada "berkarya dulu, kalau terkenal berarti bonus". Itu hanya dugaan saya dan saya tidak menghakimi mereka. Toh, mereka terkenal atau tidak sepertinya memang tidak ada untungnya bagi saya.
Tapi sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, tentunya saya berharap agar orang-orang terkenal aka influencer memang benar-benar orang yang memiliki karya dan karyanya bermanfaat untuk banyak orang, entah itu sebagai aktor, musisi, food vlogger, beauty enthusiast, dan sebagainya.
Tapi, saya sadar betul jika dunia memang tak selalu berjalan sesuai keinginan dan harapan. Saya tidak bisa mengandalikan dan memilih siapa-siapa saja yang boleh terkenal dan siapa yang tidak. Itu sangat di luar kendali saya, bahkan keterkenalan saya (yang tidak saya inginkan) pun tidak di bawah kendali saya.
Yang bisa saya lakukan adalah memilih mana influencer atau orang terkenal yang bisa saya nikmati karyanya dan mengabaikan yang menurut saya tidak bermanfaat. Ya, abaikan saja dari pada harus mencaci atau menghina karena hal itu justru akan membuat mereka semakin terkenal sehingga memungkinkan yang bermanfaat atau yang benar-benar memiliki karya bisa 'tenggelam'.
Kalau kata orang, "Banyakin karya, bukan sensasi."


Komentar
Posting Komentar